Penyakit Flu Burung (Penyebab, Gejala, Cara Mencegah, Pengobatan)

2.1.1 Pengertian Flu Burung

Penyakit flu burung adalah penyakit yang disebabkan oleh oleh virus Influenza A dari family Orthomyxoviridae dengan sub tipe H5N1. Penyakit ini umumnya terdapat pada unggas muda serta dapat menimbulkan gejala ringan sampai berat dan fatal, yaitu kematian. Penyakit flu burung juga disebut High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dengan angka kematian 100%.

2.1.2 Epidemiologi Penyakit

  1. Penyebaran Global

Pada akhir tahun 1800 dan awal 1900 telah terjadi penyebaran virus avian influenza di Eropa melalui suatu acara pameran unggas. Dengan kejadian tersebut, Eropa dinyatakan sebagai daerah enzootic untuk avian influenza yang berlangsung lama sampai tahun 1930. Di Negara-negara Asia telah terbukti penularan flu burung ke orang sebagaimana dilaporkan di Hongkong, China, Thailand, Vietnam, Colombia, dan Indonesia, yang telah memakan korban kematian lebih dari 90 orang meninggal dunia. Di Indonesia sampai Maret 2006, 20 orang meninggal karena flu burung. Sementara itu, penyebaran penyakit ini pada unggas sampai dengan Desember 2005 telah tersebar di 23 provinsi dan 151 kabupaten/ kota

  1. Penyebaran di Kawasan Asia

Penyebaran flu burung yang disebabkan oleh virus HPAI di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, pada pertengahan tahun 2003 merupakan kejadian terbesar dan terluas dalam sejarah dunia. Secara berturut-turut sesuai urutan pelaporan Sembilan Negara itu adalah : Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Kamboja, Republik Demokratik Laos, Indonesia, Cina dan Malaysia. Pada Oktober 2005, H5N1 juga telah dikukuhkan sebagai penyebab wabah unggas di Turki dan Rumania. Di Turki sampai dengan Januari 2006 diberitakan 32 orang tersangka tertular virus flu burung subtipe H5N1, dua orang remaja meninggal diantaranya.

  1. Penyebaran Di Indonesia

Penyakit flu burung pertama kali di duga berada di Indonesia pada pertengahan tahun 2003 yang diawali dengan kematian sejumlah besar unggas di Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten.  Penyebaran selanjutnya terjadi pada bulan September 2003 yang meluas ke Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Pada bulan Oktober 2003, dilaporkan terjadi di Provinsi JawaTimur dan Kalimantan Tengah. Pada bulan November 2003, penyakit ini meluas lebih lanjut ke Provinsi Bali dan pada bulan Desember 2003 ke Provinsi Kalimantan Timur. Selanjutnya 2004, perluasan wabah terjadi di Kalimantan yaitu di Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Pada tahun 2005, jumlah provinsi yang terserang wabah flu burung makin bertambah lagi berturut-turut ke Sulawesi Selatan,Sumatera Utara, dan Aceh. Korban kematian unggas meningkat mencapai 6,27 juta ekor, dan sampai Oktober 2005 menurun menjadi 539.984 ekor. Namun daerah penyebaran penyakit meluas dari 9 Provinsi 53 kabupaten tahun 2003, menjadi 26 Provinsi 172 Kabupaten tahun 2006.

2.1.3 Faktor Mempengaruhi Timbulnya Penyakit

Virus penyebab penyakit ini adalah tipe A yang biasanya terdapat pada unggas, manusia, babi, kuda, dan kadang-kadang mamalia yang lain, misalnya cerpelai,anjing laut, dan ikan paus. Tetapi virus influenza tipe B dan C hanya ditemukan pada manusia. Penyakit flu burung yang disebut pula Avian Influenza disebabkan oleh virus Influenza A. Virus ini merupakan Virus RNA dan mempunyai aktivitas haemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Pembagian subtype virus berdasarkan permukaan antigen, permukaan haemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA) yang dimilikinya. Saat ini, 15 jenis HA telah dikenali, mulai H1 sampai H15 dan 9 jenis NA, mulai N1 sampai N9. Diantara 15 subtipe HA, hanya H5 dan H7 yang bersifat ganas pada unggas.

Meskipun diberi nama flu burung, namun penyakit tidak hanya menyerang burung maupun unggas saja. Flu burung dapat menyerang:

–       Berbagai macam unggas termasuk berbagai jenis ayam, burung laut, kalkun, burung-burung liar seperti pelican, merak, wallet, itik dan sebangsanya. Demikian pula burung liar yang kini sudah menjadi burung peliharaan seperti burung parkit, kakaktua, nuri dan beo.

–       Babi, kuda, macan, ikan paus, cerpelai, dan diduga berbagai jenis mamalia yang lain diduga dapat pula tertular flu burung.

Unggas yang menderita flu burung dapat mengeluarkan virus berjumlah besar dalam kotoran (feses) maupun sekreta yang dikeluarkannya. Virus flu burung mampu bertahan hidup dalam air sampai 4 hari pada suhu 220C dan lebih dari 30 hari pada 00C. Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit, dapat bertahan lebih lama, namun akan mati pada pemanasan 600C selama 30 menit atau 900C selama 1 menit. Virus mempunyai masa inkubasi (jarak antara masuknya virus hingga terlihat gejala pada penderita) yang pendek, yaitu antara beberapa jam sampai 3 hari, tergantung pada jumlah virus yang masuk, rute kontak, dan spesies unggas yang terserang.

2.1.4 Gejala Klinis

Penyakit flu burung dapat dikenali antara lain, dari gejalanya secara klinis, yang secara menciri ditandai oleh depresi, gangguan pernafasan, kematian yang cepat dalam jumlah yang tinggi. Sore hari peternak menjumpai sebagian besar ayamnya masih terlihat sehat, tetapi pagi harinya telah mati. Karena kejadiannya sangat mendadak, maka oleh peternak dugaan awal biasanya dikira akibat keracunan dalam pakan atau air minum. Masa inkubasi bervariasi antara 2- 21 hari. Kematian dapat terjadi antara 12 jam dari tanda awal, dan sering terjadi 48 jam atau dapat sampai 1 minggu.

Virus flu burung dapat menimbulkan gejala yang bervariasi pada unggas ternak, seperti ayam dan kalkun, mulai gangguan pernafasan ringan yang bersifat tidak pathogen sampai penyakit fatal yang bersifat pathogen.  Virus flu burung yang ganas (HPAI) ditandai oleh proses penyakit yang cepat dan disertai tingkat kematian tinggi. Kejadian penyakit kemungkinan berlangsung sangat cepat dan unggas mati mendadak tanpa didahului gejala tertentu, kemudian morbiditas dan mortalitas mencapai 100

Gejala penyakit flu burng pada manusia mirip dengan influenza yang biasa terjadi pada manusia, antara lain seseorang akan mengalami Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan gejala terjadinya demam 380C atau lebih, batuk, pilek, sakit tenggorokan, badan lemas, pegal linu, nyeri otot, pusing, peradangan selaput mata (mata memerah), kadang-kadang disertai mencret dan muntah. Keadaan diatas berlanjut menjadi gejala sesak nafas yang jarang terjadi pada seseorang yang terserang flu manusia biasa. Dugaan penyakit flu burung dapat mengarah pada yang bersangkutan apabila dalam seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang terjangkit penyakit flu burung, kontak dengan unggas yang dicurigai menderita flu burung, maupun bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses specimen manusia atau hewan yang dicurigai menderita flu burung.

Namun demikian seseorang yang menunjukkan gejala ISPA hendaknya meningkatkan kewaspadaan apabila sebelumnya telah mengalami kontak dengan unggas terutama dengan burung peliharaan seperti merpati, kakaktua, perkutut, maupun burung-burung liar seperti itik, angsa dan pelikan karena seringkali virus flu burung bersifat tidak pathogen pada hewan-hewan tersebut. Kasus flu burung pada manusia terbagi menjadi 4 macam kasus, yakni:

  1. Kasus Observasi

Mengalami demam 380C atau lebih disertai salah satu keadaan berikut:

–          Batuk

–          Radang tenggorokan

–          Sesak nafas

  1. Kasus Suspek atau Possible

Mengalami Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) seperti demam lebih dari 380C, batuk, sakit tenggorokan, pilek, serta dengan salah satu keadaan :

–          Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang terjangkit wabah flu burung

–          Kontak dengan penderita influenza subtype A (H5N1)

–          Merupakan petugas laboratorium yang memeriksa sampel orang atau hewan yang diduga menderita flu burung A (H5N1)

  1. Kasus Probable

Kasus suspek yang disertai salah satu kejadian berikut:

–          Dalam waktu singkat, terjadi pneumonia gagal pernafasan atau meninggal

–          Tes laboratorium mengarah ke virus influenza subtype A (H5N1) positif (H1 test atau IFA menggunakan antibody monoklonal)

–          Tidak ada bukti penyebab lain

  1. Kasus Confirm

Merupakan kasus suspek atau probable dan didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium:

–          Kultur virus influenza subtype A (H5N1) positif

–          PCR influenza (H5) positif

–          Terjadi peningkatan titer antibody H5 sebesar empat kali

2.1.5 Penularan Flu Burung

1 Cara Penularan

Penyakit flu burung yang disebabkan virus flu burung subtype H5N1 dapat cepat menyebar di antara populasi unggas dari satu kandang ke kandang yang lain dan dari satu peternakan ke peternakan lain. Penularan penyakit dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung.

Penularan secara langsung adalah penularan dengan cara kontak langsung antara hewan penderita flu burung dengan hewan lain yang peka maupun manusia. Namun demikian, sejumlah penelitian masih terus dilakukan karena virus influenza A mempunyai potensi melakukan mutasi, sehingga menghasilkan virus baru yang sifatnya berbeda dengan virus sebelumnya. Potensi lainnya adalah virus melakukan “persilangan” dengan virus lain, sehingga menghasilkan virus baru dengan kombinasi sifat keduanya. Hewan yang terinfeksi mengeluarkan virus dari saluran pernafasan, mata, dan kotoran.

Penularan secara tidak langsung dapat terjadi melalui udara yang tercemar material atau debu yang mengandung virus Avian Influenza, makanan, minuman, alat atau perlengkapan peternakan, kandang, kurungan ayam, pakaian,kendaraan, peti telur yang tercemar virus flu burung, dan semua barang yang telah pernah mengalami kontak dengan penderita. Oleh karena itu, alat-alat yang telah berhubungan dengan penderita flu buurng harus didesinfeksi. Kita harus tahu bahwa virus flu burung tidak bertahan lam di udara, tetapi setelah di udara akan menempel pada benda-benda disekitarnya. Dengan demikian, penularan diduga tidak langsung dari udara, tetapi virus flu burung dibawa lewat udara dan menempel pada benda-benda, lalu baru menular jika virus mengalami kontak dengan hospes yang peka.

2. Orang yang beresiko Tinggi Tertular

–          Orang yang bekerja di laboratorium untuk memeriksa spesimen (sampel) hewan yang diduga menderita penyakit flu burung atau melakukan peenlitian tentang flu burung

–          Pekerja peternakan unggas seperti anak kandang, dokter hewan, mantra hewan, maupun petugas kesehatan hewan lain yang sering melakukan kontak dengan unggas

–          Pekerja Rumah Potong Unggas (RPU) terutama yang berhubungan langsung dengan unggas yang dipotong

–          Pekerja kebun binatang yang langsung menangani binatang terutama unggas

–          Pemilik unggas dan keluarga atau pegawainya yang bertugas mengurus unggas atau siapa pun yang sering melakukan kontak langsung dengan unggas

–          Penjual unggas dan orang yang bekerja di pasar burung

–          Tukang masak yang bertugas mengolah unggas yang masih mentah

–          Orang yang bekerja menangani produk yang dikeluarkan dari peternakan seperti orang yang mengolah kotoran unggas, bulu dan darah untuk dijadikan pupuk, maupun pegawai perkebunan yang menggunakan pupuk dari produk sisa peternakan unggas

–          Orang yang tinggal dekat peternakan atau kompleks pemukiman padat unggas dengan sistem peternakan atau pemeliharaan yang tidak benar, terutama jika dalam situasi wabah flu burung

–          Semua orang yang pernah melakukan kontak langsung dengan unggas

2.1.6 Pencegahan Flu Burung Pada Hewan

Pencegahan flu burung pada hewan dapat dilakukan dengan 3 jalan, yakni dengan peningkatan biosekuriti, pemberian vaksinasi, dan depopulasi serta stamping out.

  1. Biosekuriti

Adalah cara menangani ternak secara higienis, cara meliputi semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk mengendalikan wabah dengan mencegah semua kemungkinan kontak atau penularan dengan peternakan yang tertular dan penyebaran penyakit. Tindakan meliputi :

–          Melakukan pengawasan lalu lintas dan tindakan karantina atau isolasi local peternakan tertular dan lokasi penampungan unggas yang tertular serta membatasi secara ketat lalu lintas kontaminan yang meliputi hewan atau unggas, produk unggas dan alas kandang.

–          Membatasi lalu lintas orang atau pekerja dan kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan

–          Para pekerja dan semua orang yang ada di lokasi peternakan harus dalam keadaan sehat

–          Untuk keamanan petugas maupun unggas, para pekerja dan semua orang yang ada di lokasi peternakan atau penampungan unggas tertular harus menggunakan pakaian pelindung, kacamata, masker, sepatu pelindung, dan harus melakukan tindakan desinfeksi serta sanitasi

–          Mencegah kontak antara unggas dengan burung liar atau burung air, tikus, lalat dan hewan lainnya.

–          Dekontaminasi dan desinfeksi adalah tindakan untuk mensucihamakan secara tepat dan cermat terhadap pakan, air minum dan semua peralatan, pakaian pekerja kandang, alas kaki, kendaraan dan bahan lain yang tercemar termasuk bangunan kandang yang bersentuhan dengan unggas, kandang atau tempat penampungan unggas.

  1. Vaksinasi

Merupakan program pengebalan dengan memasukkan virus flu burung yang sudah dilemahkan atau dimatikan. Tujuannya adalah merangsang tubuh membentuk antibody untuk melawan virus flu burung apabila suatu saat menyerang. Banyak peternak takut melakukan vaksinasi pada unggasnya karena alasan takut unggasnya mati. Hal ini kurang benar karena vaksin yang beredar saat ini adalah vaksin inaktif yang berasal dari virus flu burung yang sudah dimatikan dan tingkat keamanannya lebih baik. Tahun 2006, telah dibuat vaksin rekombinan inaktif yang dibuat dari virus H5N1 lokal dengan metode reverse genetic.

Vaksin flu burung memang cukup aman untuk hewan sehat, tetapi jika sudah terlanjur sakit sebaiknya jangan divaksin karena keamanannya tidak bisa dijamin. Pemilik sebaiknya melakukan program vaksinasi secara rutin dan tidak usah menunggu ada ayam yang sakit baru divaksin karena antibody untuk melawan flu burung tidak langsung timbul seketika. Pada umumnya, unggas akan membentuk antibody 2 minggu setelah divaksin.

  1. Depopulasi dan Stamping Out

Tindakan ini merupakan cara mencegah meluasnya penyakit flu burung dengan memutus mata rantai penyebaran virus flu burung.

Depopoulasi (pemusnahan selektif) adalah suatu tindakan mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan penyakit. Tindakan ini dilanjutkan dengan prosedur disposal, yaitu prosedur melakukan pembakaran dan penguburan terhadap bangkai unggas, telur, kotoran (feses), bulu, alas kandang, pupuk, dan pakan ternak yang tercemar serta bahan dan peralatan lain yang tercemar, tetapi tidak dapat didesinfeksi secara efektif.

Stamping Out merupakan tindakan pemusnahan secara menyeluruh, yaitu memusnahkan seluruh unggas yang sakit maupun sehat pada peternakan tertular dan semua unggas yang berada dalam radius 1 km dari peternakan tertular.

2.1.7 Kebijakan Pemerintah

Melalui keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan tertanggal 4 Februari 2004, pemerintah telah menetapkan strategi untuk melakukan pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan flu burung ( Avian Influenza). Prinsip tersebut meliputi 5 hal yakni : mencegah kontak antara hewanyang peka dengan virus flu burung, menghentikan produksi virus flu burung oleh unggas tertular, meningkatkan resistensi hewan dengan cara vaksinasi, menghilangkan sumber penularan virus, dan meningkatkan kesadarn masyarakat. Dalam melaksanakan prinsip dasar, pemerintah melakukan 9 tindakan yang merupakan satu kesatuan satu sama lainnya, sehingga kesembilannya harus dilaksanakan secara bersama-sama tanpa terpisah-pisah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Berikut adalah kesembilan  tindakan :

1)      Pelaksanaan Biosekuriti Secara Ketat

Tindakan biosekuriti meliputi :

–          Melakukan pengawasan lalu lintas dan tindakan karantina atau isolasi local peternakan tertular dan lokasi penampungan unggas yang tertular serta membatasi secara ketat lalu lintas kontaminan yang meliputi hewan atau unggas, produk unggas dan alas kandang.

–          Membatasi lalu lintas orang atau pekerja dan kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan

–          Para pekerja dan semua orang yang ada di lokasi peternakan harus dalam keadaan sehat

–          Untuk keamanan petugas maupun unggas, para pekerja dan semua orang yang ada di lokasi peternakan atau penampungan unggas tertular harus menggunakan pakaian pelindung, kacamata, masker, sepatu pelindung, dan harus melakukan tindakan desinfeksi serta sanitasi

–          Mencegah kontak antara unggas dengan burung liar atau burung air, tikus, lalat dan hewan lainnya.

–          Dekontaminasi atau desinfeksi

2)      Tindakan Pemusnahan Selektif Unggas (Depopulasi) di Daerah Tertular

Depopulasi atau pemusnahan selektif merupakan tindakan untuk mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan penyakit. Tindakan depopulasi dilakukan terhadap semua peternakan yang tertular flu burung dan ditetapkan melalui diagnosis secara klinis dan patologi anatomis oleh dokter hewan. Tindakan dilakukan di peternakan tertular pada semua unggas hidup yang sakit maupun unggas sehat yang sekandang dengan menyembelihnya sesuai prosedur pemotongan unggas yang berlaku.

Tindakan ini dilanjutkan dengan prosedur disposal, yaitu prosedur melakukan pembakaran dan penguburan terhadap bangkai unggas, telur, kotoran (feses), bulu, alas kandang, pupuk, dan pakan ternak yang tercemar serta bahan dan peralatan lain yang tercemar, tetapi tidak dapat didesinfeksi secara efektif. Pembakaran hendaknya dilakukan dalam lubang yang telah dipersiapkan untuk penguburan atau menggunakan incinerator untuk mencegah polusi. Lubang penguburan sebaiknya mempunyai kedalaman minimal 1,5 meter.

3)      Pengebalan ( Vaksinasi)

Vaksin yang dipergunakan adalah vaksin inaktif produksi dalam negeri atau impor yang strain virusnya homolog dengan subtype virus isolate local (strain H5) dan telah mendapatkan rekomendasi ( nomor registrasi) dari pemerintah. Tindakan vaksinasi hanya boleh dilakukan di daerah tertular secara missal terhadap seluruh unggas sehat terancam (100%) dengan cara penyuntikan saru per satu dan apabila perlu, dilakukan boster (penyuntikan ulang). Dosis vaksin sebagai berikut :

–          Ayam petelur : umur 4-7 hari sebanyak 0,2 ml dibawah kulit pada pangkal leher, umur 4-7 minggu sebanyak 0,5 ml dibawah kulit pada pangkal leher, umur 12 minggu sebanyak 0,5 ml di bawah kulit pada pangkal leher atau otot dada. Pelaksanaan vaksinasi, depopulasi, serta stamping out diulang 0,5 ml pada otot dada setiap 3-4 bulan.

–          Ayam pedaging : dilaksanakan pada umur 4-7 hari dengan dosis 0,2 ml di bawah kulit pada pangkal leher

–          Program vaksinasi pada unggas lain disesuaikan dengan petunjuk yang tercantum pada etiket masing-masing produsen vaksin.

4)      Pengendalian Lalu Lintas

Pengaturan ketat terhadap pengeluaran dan pemasukan unggas hidup, telur, produk unggas, daging unggas serta hasil olahannya, serta limbah peternakan harus memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. Dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam DILARANG mengeluarkan anak unggas umur sehari kecuali anak unggas umur sehari bibit induk dari peternakan pembibitan yang tidak terjadi kasus flu burung sekurang-kurangnya 30 hari terakhir
  2. Dari daerah tertular ke daerah tertular lain diizinkan mengeluarkan anak unggas umur sehari parent stock dan atau final stock dari peternakan pembibitan yang tidak terjadi kasus flu burung sekurang-kurangnya 30 hari terakhir
  3. Unggas dewasa DILARANG di keluarkan dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam, sedangkan dari daerah tertular ke daerah tertular lainnya diizinkan mengeluarkan unggas dewasa yang telah mendapatkan tindakan vaksinasi, depopulasi, serta stamping out minimal 21 hari sebelum tanggal pengeluaran
  4. Dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam maupun daerah tertular lainnya diizinkan mengeluarkan telur konsumsi maupun telur tetas dari peternakan yang bebas atau tidak pernah terjadi kasus flu burung sekurang-kurangnya 30 hari terakhir
  5. Dari daerah tertular ke daerah bebas atau terancam maupun ke daerah tertular lainnya diizinkan mengeluarkan karkas dan daging unggas yang tidak tertular maupun tidak terjangkit kasus flu burung setidak-tidaknya 14 hari
  6. Dari daerah tertular ke daerah bebas atau terncam maupun daerah tertular lainnya diizinkan mengeluarkan pakan ternak sepanjang pakan berasal dari lokasi industry pakan ternak dan diangkut langsung ke tempat tujuan.
  7. Dari daerah tertular ke daerah bebas atau terncam maupun daerah tertular lainnya DILARANG mengeluarkan semua jenis limbah

5)      Surveilans dan Penelusuran

Dilakukan pada semua unggas yang rentan (beresiko tinggi) terhadap penyakit dan sumber penyakit flu burung. Surveilans bertujuan menetapkan sumber infeksi di daerah yang baru tertular, menetapkan sumber penyebaran atau perluasan penyakit di daerah tertular, memantau epidemiologi dan dinamika penyakit untuk mengetahui perkembangan pengendalian dan pemberantasan penyakit.

Penelusuran dilaksanakan bersama dengan surveilan, dilakukan untuk menentukan sumber infeksi dan menahan secara efektif penyebaran penyakit. Penelusuran dilakukan paling cepat 14 hari sebelum timbulnya gejala penyakit sampai tindakan karantina mulai diberlakukan.\

6)      Peningkatan Kesadaran Masyarakat

Program sosialisasi atau kampanye tentang penyakit flu burung kepada masyarakat dan peternak mengingat dampak kerugian yang ditimbulkan akibat flu burung, baik secara ekonomis maupun kesehatan masyarakat. Sosialisasi dapat diwujudkan sebagai program pendidikan kepada masyarakat melalui seminar dan pelatihan dengan bekerjasama dengan industry perunggasan dan asosiasi bidang peternakan.

7)      Pengisian Kembali (Restocking) Unggas

Pengisian kembali unggas ke dalam kandang dapat dilakukan paling cepat 1 bulan setelah pengosongan kandang dilakukan dan semua tindakan desinfeksi dan disposal selesai dilaksanakan sesuai prosedur

8)      Pemusnahan Unggas Secara Menyeluruh ( Stamping Out)

Tindakan dapat dilaksanakan apabila dalam kondisi;

–          Kejadian penyakit masih dapat dilokalisasi dan tidak berpotensi menyebar secara cepat ke peternakan atau daerah lain

–          Batasan jumlah unggas yang akan dimusnahkan masih dianggap ekonomis oleh peternak

–          Peningkatan boisekuriti dan pembatasan lalu lintas secara ketat harus diberlakukan terhadap peternakan tertular

–          Pelaksanaan surveilans dan penelusuran untuk mengidentifikasi sumber penularan oleh BPPV Regional di wilayah tersebut.

9)      Monitoring, Pelaporan, dan Evaluasi

Kegiatan monitoring bertujuan mengetahui keberhasilan suatu kegiatan dan dampak serta permasalahan yang timbul saat kegiatan dilaksankan agar dalam perkembangan lebih lanjut dapat disempurnakan kekurangannya.

Pelaporan meliputi laporan situasi penyakit dan perkembangan  pelaksanaan pengendalian dan pemberantasan penyakit, produsen, serta nama vaksin yang digunakan dan pendistribusiannya.

Evaluasi pelaksanaan, pencegahan, pengendalin dan pemberantasan flu burung bertujuan mengetahui pencapaian target kegiatan, dampak keberhasilan, dan permasalahan yang timbul di lapangan. Hal- hal yang di evaluasi antara lain penyediaan dan distribusi sarana seperti vaksin, obat, maupun peralatan. Evaluasi dilaksanakan pada akhir kegiatan oleh pemerintah pusat dan daerah diakhir tahun anggaran.

Sumber : Makalah Flu Burung dan Flu Babi (Apriani,Dwi,Sri)

Share Button