Epidemiologi KEP (Kekurangan Energi Protein) Pada Balita

Epidemiologi KEP (Kekurangan Energi Protein) Pada Balita

Defenisi : Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah salah satu gangguan gizi yang disebabkanoleh kekurangan energi maupun protein dalam proporsi yang berbeda-beda dari yang ringan sampai yang berat. KEP jika kebutuhan kalori dan protein (atau keduanya) tidak tercukupi. Disebut KEP jika berat badan kurang dari 80% indeks berat badan menurut (BB/U) baku WHO-NCHS. KEP tingkat berat (gizi buruk) dengan gejala klinis disebut marasmus dan kwashiorkor.

Jenis :

1. Marasmus : Kekurangan protein dan kilokalori yang kronis. Gejala umum dari marasmus adalah berat badan sangat rendah, kurus kering, tampak hanya tulang dan kulit, otot dan lemak bawah kulit atropi, wajah seperti orang tua, keriput, layu dan kering, diare umum terjadi.

2. Kwashiorkor :  Kekurangan protein baik kualitas dan kuantitas, biasa terjadi pada balita umum 1-4 tahun (yang terlambat disapih). Gejala pertumbuhan dan mental mudur, edema, otot menyusut (kurus), depigmentasi rambut atau kulit, karakteristik kulit (timbul sisik dan dermatosis), anemia moderat, masalah diare dan infeksi, kekurangan vitamin A.

3. Marasmus dan Kwashiorkor : Gabungan kedua kondisi Marasmus dan Kwashiorkor. Terjadi karena makan sehari-hari tidak cukup mengandung protein dan juga energy untuk pertumbuhan normal. Pada tipe ini BB/U < 60% Baku median WHO NCHS. Gambarang utama adalah kwashiorkor edema, dengan  atau tanpa lesi pada bawah kulit seperti pada marasmus. Jika edema hilang pada awal pengobatan, penampakan penderita menyerupai marasmus. Gambaran marasmus dan kwashiorkor muncul secara bersamaan dan didominasi oleh kekurangan protein yang parah.

Besaran Masalah :

Prevalensi gizi kurang pada balita 17,9 %, terdiri dari gizi kurang 13%, dan gizi buruk  4,9 % (Riskesdas 2010). Provinsi yang diatas rata-rata nasional KEP NTB, NTT, Kaltim, Sulteng,Papbar, Gorontalo, Maluku, SUlse, NAD, Kalse, Sultera, dan Sumut.

Cara Penanganan : Pencegahan dan penanganan tergantung pada penyebab penyakit, pencarian jalan keluar untuk masalah sosial ekonomi, program pemberian makanan dan pengasuhan penuh kasih.   

Share Button